BI: Perusahaan publik gagal bayar meningkat
JAKARTA (Bisnis.com): Bank Indonesia mengindikasikan perusahaan publik nonkeuangan yang gagal bayar pada 2009 akan meningkat seiring dengan perlambatan ekonomi sehingga mempengaruhi risiko kredit.
Hasil perhitungan bank sentral mengungkapkan perusahaan publik yang akan mengalami kemungkinan gagal bayar (probability of default) meningkat menjadi twenty-seven perusahaan pada akhir 2009 dari asumsi posisi akhir tahun lalu twenty-two perusahaan.
Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah mengatakan lonjakan kemungkinan gagal bayar itu akan mendorong kenaikan risiko kredit perbankan pada tahun ini. "Dari hasil estimasi tersebut mengindikasikan peningkatan risiko kredit [perbankan] ke depan,” ujarnya dalam convention Industri Multifinance dan Pengawasan Perbankan Secara Terkonsolidasi di Jakarta, hari ini.
Dia menjelaskan kebanyakan perusahaan yang akan mengalami kemungkinan gagal bayar adalah sektor aneka industri, perdagangan dan investasi. Hal itu terjadi karena berkurangnya permintaan domestik maupun macanegara.
"Ini akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, jadi beberapa sektor yang bersentuhan dengan pasar luar negeri akan terpengaruh,” jelasnya.
Berdasarkan highlight exam bank sentral, sektor aneka industri kemungkinan mengalami gagal bayar meningkat menjadi 25% dari posisi akhir tahun lalu sebesar 35%. Kemudian diikuti oleh sektor perdagangan dan investasi di turn 10,9% dari sebelumnya 9,4%. Sementara itu, sektor infrastruktur masih stabil pada turn 18,8%, sektor properti sebesar 5,9%, industri dasar dan farmasi 8,7% dan sektor konsumer 3,1%, sedangkan sektor agribisnis serta pertambangan hanya 0%.(yn)