|

Cermati BUMI, OKAS, PGAS, BMRI, BBRI, BBNI

JAKARTA (Bisnis.com): Harga saham sejumlah emiten Bursa Efek Indonesia pada perdagangan di akhir pekan ini setidaknya akan terpengaruh kondisi keuangan, aksi korporasi, maupun berita-berita seputar perusahaan seperti BUMI, OKAS, PGAS, BMRI, BBRI dan BBNI.

Harian Bisnis Indonesia dan Mega Capital Indonesia hari ini mencatat keenam emiten tersebut yakni:

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih harus menyiapkan pembayaran US$1 miliar atau setara dengan Rp10 triliun pada tahun keenam kepada China Investment Corporation (CIC) untuk memenuhi inner rate of lapse (IRR) 19%. Dalam Investor Digest yang dirilis oleh PT Mandiri Sekuritas kemarin, Kepala Riset Mandiri Ari Pitoyo mengungkapkan manajemen Bumi belum mengungkapkan secara item mengenai struktur instrumen sejenis saham senilai US$1,9 miliar atau Rp19 triliun yang dibeli oleh CIC.

Instrumen itu memberikan bunga 12% per tahun dengan pembayaran US$600 juta pada tahun keempat, US$600 juta pada tahun kelima, dan selebihnya pada tahun keenam. "Dengan cicilan pembayaran seperti itu, IRR-nya hanya 14%. Untuk mencapai IRR 19% [seperti dalam kesepakatan utang], Bumi harus menyiapkan tambahan pembayaran US$1 miliar pada tahun keenam," tutur Ari dalam laporannya itu.

Bumi akan memanfaatkan utang yang diperoleh dari CIC untuk membiayai restrukturisasi utang dan belanja modal. Menurut laporan itu, tambahan pembayaran US$1 miliar itu diperkirakan terkait dengan saham yang bisa berupa benefit dari kenaikan harga saham senilai US$1 miliar atau kemungkinan lain yang disiapkan Bumi untuk mencapai IRR 19%. IRR adalah tingkat diskonto di mana nilai sekarang dari arus kas ke depan atas investasi sebanding dengan biaya investasi.

Jika dikalkulasi, utang itu tergolong element karena nilainya 252,35% dari penjualan Bumi per Maret 2009 sebesar US$752,92 juta dan 108,57% dari nilai ekuitas.

PT Bursa Efek Indonesia menetapkan harga teoretis di pasar reguler untuk pedoman penjualan saham PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) melalui penawaran umum terbatas pada turn Rp765 per lembar. "Penyesuaian harga teoretis saham Ancora Indonesia akan dilaksanakan pada twenty-five September," papar Ph. Kepala Divisi Perdagangan Saham BEI Andre P.J. Toelle dan Kepala Divisi Pencatatan Sektor Jasa Umi Kulsum melalui keterbukaan informasi kemarin. Penetapan harga itu terkait dengan rights emanate emiten yang harganya telah ditetapkan pada turn Rp520 per lembarnya.

Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tanjung Priok mendapatkan tambahan pasokan gas sebesar thirty MMSCFD dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) pada twenty-nine Sep mendatang. Dengan masuknya gas tersebut, PT Indonesia Power akan menghemat sebesar Rp90 miliar per bulan. Penghematan itu karena adanya peralihan penggunaan bahan bakar dari minyak ke gas.

Rencananya gas tersebut akan masuk pada twenty-nine Sep mendatang dan saat ini sedang dalam tahap commusioning. Sebelumnya, PLTGU dengan kapasitas 1.500 Megawatt (MW) tersebut telah menapat pasokan 60 MMSCFD dari BP Indonesia. Indonesia Power mengharapkan akan ada perpanjangan waktu kontrak dan juga pertambahan volume gas dari PGAS, mengingat saat ini kontrak tersebut hanya untuk tiga tahun. Selain untuk PLTGU Tanjung Priok, Indonesia Power juga telah mendapat tambahan pasokan gas sebesar 40-60 MMSCFD dari Santos untuk PLTGU Grati. Pasokan tersebut akan masuk pada thirty Sep mendatang, dengan panjang kontrak selama 4 tahun.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan pertumbuhan kredit sebesar 5,5% terhitung periode awal Januari-akhir Agustus 2009 kemarin. Angka tersebut naik tipis dibandingkan pertumbuhan kredit pada periode Januari 2009-Juni 2009, yang sebesar 5%. Meskipun demikian, pertumbuhan kredit ini relatif lebih baik jika dibandingkan awal tahun.

Saat ini per bulan, net ekspansi kredit mencapai Rp300 miliar-Rp350 miliar. Dulu pada awal tahun
hanya Rp70 miliar-Rp100 miliar. BMRI juga meyakini aim pertumbuhan kredit sebesar 15%-18% dapat tercapai. Siklus kredit akan deras di triwulan keempat atau terakhir. Di triwulan akhir, kebutuhan kredit untuk modal kerja dan impor akan cukup tinggi. Untuk mencapai aim pertumbuhan kredit itu, BMRI akan mengandalkan kredit mikro karena pertumbuhan di sektor mikro bisa mencapai angka 40%. Selanjutnya disusul dengan kredit konsumsi. Untuk segmen blurb promissory note kemungkinan bakal relatif flat.

Keyakinan ini muncul dikarenakan BMRI telah melihat rencana kerja dari perusahaan-perusahaan yang menjadi debiturnya. Hal tersebut terlihat dengan semakin tingginya angka kredit yang sudah menjadi komitmen tetapi belum ditarik (undisbursed loan). Angka undisbursed loan naik dari awal tahun sebesar Rp28 triliun menjadi Rp33 triliun di Juni. Adapun, kini, angka undisbursed loan sebesar Rp35 triliun. Namun BMRI yakin bahwa undisbursed loan akan ditarik pada akhir tahun ini.

Lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Investor Services menurunkan peringkat tellurian internal banking (GLC) deposition 4 bank BUMN dari Baa2 menjadi Baa3. Bersamaan dengan itu, Moody’s menaikkan deposito valas jangka panjang 10 bank menjadi Ba3 dari B1. Peringkat 4 bank BUMN yang diturunkan peringkat GLC depositnya adalah BMRI, BBNI, BBRI dan PT Bank Tabungan Negara (BTN). Mengacu pada situasi terkini dan prospek masa depan, Moody’s menyimpulkan bahwa one after another await submit untuk peringkat bank di Indonesia diubah menjadi Baa3 dari Baa2, yang mana sebelumnya berbeda dua turn di atas peringkat surat utang denominasi rupiah pemerintah Indonesia di Ba2.

Moody’s menetapkan kembali peringkat Baa3 untuk GLC deposition 6 bank yaitu BBCA, BNGA, BDMN, BNII,
BNLI dan PNBN dengan Outlook stabil. Bersamaan dengan itu, Moody’s juga menaikkan peringkat
deposito valas jangka panjang 10 bank tersebut menjadi Ba3 dari B1, yakni BMRI, BBNI, BBRI, BTN,
BBCA, BNGA, BDMN, BNII, BNLI dan PNBN.

Random Posts

  • Currency Pair Daily Forecasts
  • Phillips-Van Heusen beli Tommy Hilfiger US$3 miliar
  • U.S. Market Update
  • FX Thoughts for the Day
  • USD/CHF Monitoring Reversal
  • Dollar Falls on Disappointing Labor Data
  • BEI dan BI libur saat Pilpres 8 Juli
  • Technical Analysis for Major Currencies
  • US Jobs Data Surprises, Dollar Jumps
  • Forex Fundamental Outlook

Leave a Reply